Minggu, 25 Juli 2010

Siapa Sebenarnya yang Dimaksud Alay?


Minggu, 25 Juli, di tengah siang yang panas, gue liat di twitter, pee wee gaskins main di margocity jam 8 malam. Gue yang kebetulan lagi nganggur di kosan, tiba tiba terbesit keinginan buat nonton. Kebetulan ini kali kedua gue liat PWG tampil live (sebelumnya pas launching the sophomore di Bulungan).
Singkat cerita malam pukul setengah delapan, tibalah gue di margo city. Gue menyempatkan diri beli minum di Giant, paling ga biar ga mati gaya nanti, lantaran gue cuma sendiri di sana. Okay pukul delapan, PWG pun mulai main. Penampilan mereka dibuka dengan lagu You Throw the Party We Get The Girl, lagu lama mereka. Baru awal mereka mulai, aqua botol dan gelas mulai menghujani panggung. Dan belum sampai reff kedua musik mati secara tiba tiba. Penonton pun sontak menyoraki Dochi dkk. Gue juga sempet bingung, acara disponsori perusahaan rokok terkenal gini kok bisa sampai melakukan kesalahan teknis.
Gue mulai bertanya sama diri gue sendiri. Apa bener ya PWG beneran band yang ga berkualitas, cuma gaya doang, plagiat, dan ga bisa ngurus sound?
Gue positive thinking aja deh, soalnya gue termasuk orang yang ngikutin mereka dari awal, gue tau kok dulu mereka raja pensi di SMA beken di Jakarta. Sayangnya aja, sekarang lantaran sudah kadung sering main di acara TV macam inbox, dahsyat, mantap dll, mereka dicap alay.
Kembali ke acaranya, Sansan dan Dochi untungnya masih bisa tenang menghadapi situasi yang bisa gue bilang, bikin senewen banget. Memang sempat muncul perkataan bernada tinggi dari dochi dan Sansan, seperti salah satunya "Kalo lu emang punya ti**t ayo maju sini, kita omongin baik baik" tapi gue anggap kalimat tersebut itu sangat diplomatis, melihat situasi yang udah keluar kendali.
Saat itu gue masih bingung kenapa musik bisa mati secara tiba tiba. Dan gue melihat ke sekitar, ada stop kontak listrik di sebelah gue yang stekernya terlepas. Salah seorang crew pun berteriak "wah colokannya ada yang ngelepas" mereka pun dengan sigap memasangnya lagi dan menutupnya dengan penghalang, dan salah seorang crew langsung berjaga di sebelah gue takut sampai ada yang sabotase lagi.
Sumpah perasaan gue iba banget, ko sampai ada ya orang jahat banget nyabotase sampai ngelepas colokan dari stop kontaknya gitu. Dan ternyata setelah stop kontak beres terpasang lagi, listrik panggung pun kembali menyala. PWG pun mulai bermain lagi. Tapi tetep aja gue ga habis pikir, ada ya orang bisa jahat kaya gitu.
Jadi yang alay sebenarnya siapa?
Orang orang yang skeptis atau malah udah menjadi anti PWG, yang suka asal bikin thread plagiat buat mereka (padahal udah gue cek semua, ga ada yang jiplak, cuma mirip beberapa nada,ga kaya demasip atau pierra ko,lu bisa cek juga deh kalo ga percaya). Orang yang ga ngerti musik, bego bisanya ikut ikutan arus aja. Atau bahkan anak anak gaul yang mendewakan maliq n d essential, endah rhesa, trees and the wild (yang katanya band paling gaul saat ini, cuma mentingin jaminan ga pasaran doang)

Lu liat kasus yang gue angkat sekarang siapa yang alay sebenarnya, kalo lu cuma bisa mencak mencak ngatain PWG itu sombong, padahal kenal juga engga. Bisanya menjudge mereka homo atau apalah itu. Sekali lagi liat kasus gue, apa lu sama aja kaya orang yang nyabotase orang yang lagi kerja susah payah nyari duit? Apa lu sama aja kaya orang yang hobinya nimpukin orang kerja, pake botol aqua (udah kaya bonek nonton bola aja)? Kalo menurut gue sih, nimpuk pake botol, nyabotase orang pake ngelepas stop kontak, itulah alay sebenarnya, orang jahat,lu bayangin lu ada di posisi sebagai personil bandnya.

Berpikirlah cerdas, jangan baru tau selapis dua lapis udah banyak omong. Hargai usaha orang lain.
Hal ini juga berlaku untuk kasus Dedi Corbuzier, Kangen band dan kasus pembunuhan karakter lainnya. (foto:istimewa)
Terima kasih

Minggu, 07 Maret 2010

Teknik Menjadi Reporter yang Handal

Teknik Reporter

Profesi reporter merupakan ujung tombak di dalam dunia jurnalistik. Bagaimana isu-isu di masyarakat dicari sumber informasinya, hingga kemudian dikemas ke dalam sebuah artikel yang menarik dan layak untuk dibaca merupakan deskripsi sederhana kerja seorang reporter. Namun di balik itu semua dibutuhkan teknik-teknik dan juga trik khusus di dalam melakukan reportase dan menulis sebuah artikel. Di dalam tulisan ini, akan dibahas secara tuntas bagaimana teknik reportase, dan menulis artikel jurnalistik yang baik.

Kerja seorang reporter

Reportase merupakan pekerjaan dimana kita harus seratus persen focus dan bertanggung jawab di dalamnya. Jika kita hanya setengah2 dan tidak tuntas di dalam bekerja akan terjadi missing di masyarakat yang bisa saja menjadi masalah besar dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Namun menjadi reporter bukan melulu akan menjadi profesi yang menyebalkan dan membosankan. Itu semua tergantung dengan bagaimana kita mengerjakannya. Jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati, niat yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga menjalin hubungan baik dengan orang lain, niscaya pekerjaan reporter akan menjadi profesi yang sangat menyenangkan.
a. Menanggapi isu yang berkembang
Kerja awal reporter adalah menghadapi isu-isu yang berkembang di masyarakat. Seperti contoh isu tentang aliran dan Bank Century untuk kampanye SBY. Sebagai reporter yang baik, langkah awal setelah mendengar adanya isu adalah berpikir netral. Ubah niat kita menjadi untuk mencari kebenaran bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.
b. Mencari sumber dan data terkait yang valid
Setelah menanggapi isu tersebut, ditindaklanjuti dengan mencari sumber dan data terkait yang valid. Data yang dicari bisa merupakan data primer yaitu langsung kepada narasumber terkait, dan juga data sekunder yaitu data literature yang valid dari sumber terpercaya.
c. Proses wawancara dan pencarian data literature
Proses ini merupakan proses terpenting di dalam kerja seorang reporter. Antara data primer dan data sekunder sama pentingnya, namun di dalam proses ini data primer harus didahulukan. Hal tersebut karena terkadang data sekunder dari sumber terpercaya pun bisa saja direkayasa oleh pihak tertentu. Berbeda dengan data primer, saat kita bertemu face to face dengan narasumber terkait, akan terasa atmosfer berbeda dan disinilah sifat kritis reporter diperlukan di dalam menginvestigasi narasumber.
d. Proses peredaksian.
Data yang telah didapatkan kemudian dikumpulkan, khusus untuk data primer reporter wajib untuk membuat verbatim, yaitu sebuah catatan lengkap tanya jawab pada saat melakukan wawancara. Tidak lupa data primer dan sekunder dilakukan uji cross, sehingga pastikan data sinkron sebelum masuk ke tahap penulisan artikel.
e. Proses penulisan
Proses penulisan artikel merupakan tahap akhir di dalam kerja reporter. Setelah isu ditanggapi, dicari tahu kebenarannya, dan diolah datanya tiba saatnya reporter mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Inti dari proses ini adalah berjiwa kritis. Pada proses awal tadi sempat dijelaskan bahwa niat awal kita adalah netral. Namun pada saat penulisan kita harus memberikan info sebenar-benarnya. Reporter harus mengeluarkan pemikiran kritisnya, namun tetap cerdas, mematuhi etika, dan tidak membabi buta dalam mengemukakan fakta informasi.



Taktik Jitu Dalam Pencarian Data

Telah diutarakan sebelumnya bahwa data terbagi atas data primer yang langsung kepada narasumber terkait dan data sekunder berupa data literature dari sumber yang terpercaya. Untuk tiap data tersebut terdapat tips khusus agar reporter bisa maksimal dalam bekerja.
a. Tips untuk data primer (wawancara langsung narasumber).
- Reporter harus mau bekerja keras dan berani. Sehingga siapapun narasumbernya reporter tersebut tidak gentar. Terkadang narasumber tertentu sulit untuk ditemui. Reporter yang baik harus cekatan membuat janji dengan narasumbernya, terkadang jika kita beruntung cobalah untuk datangi langsung kantornya, biasanya kesempatan untuk wawancara bisa langsung dating. Jangan jadi reporter yang malas dan manja!
- Reporter harus siap dengan pertanyaannya. Kembangkan jiwa kritis kalian pada saat wawancara. Jangan hanya mengangguk dan mudah berkata iya terhadap semua jawaban narasumber. Lagi-lagi kita harus konsentrasi penuh terhadap narasumber. Sehingga kita dapat memberikan tanggapan yang tepat pada saat itu juga.
- Reporter harus menggiring narasumber kepada permasalahan, bukan sebaliknya. Sebagai reporter kita harus bermain cantik dengan tidak to the point saat wawancara berlangsung. Hal ini untuk menghindari narasumber yang malah akan menjadi malas untuk diwawancara.
- Reporter harus efektif dan efisien dalam wawancara. Reporter harus memiliki perkiraan waktu yang tepat. Biasanya sesaat sebelum wawancara dimulai, antara reporter dan narasumber terjadi kesepakatan waktu wawancara. Reporter harus dapat memperkirakan berapa waktu untuk berbasa-basi dan berapa waktu untuk pertanyaan yang berhubungan dengan akar permasalahan.
- Reporter harus mampu mengendalikan permainan. Terkadang ada narasumber yang cenderung ingin menguasai jalannya wawancara, menjawab berputar-putar, dan mengalihkan pembicaraan. Kunci untuk menghadapi masalah ini adalah ketahuilah terlebih dahulu dasar-dasar permasalahannya, dan perbanyaklah pengalaman. Karena keahlian wawancara tidak akan muncul pada saat pertama kali. Dibutuhkan pengalaman yang banyak sehingga kita terbiasa berbincang dengan orang lain, hingga tahu psikologis orang yang kita wawancarai.
- Gunakan kalimat yang sopan dan baik, karena narasumber ingin selalu dihargai atas waktu dan kesempatan yang ia berikan untuk wawancara.
- Jadikan tiap kesempatan wawancara menjadi tempat untuk menjalin relasi. Sehingga kapanpun kita membutuhkan wawancaranya lagi, dengan senang hati narasumber yang sama akan senang hati menerima anda.
b. Tips untuk data sekunder
- Kunjungi situs online resmi, untuk mencari data terkait. Ingat data tidak boleh sembarangan!
- Jika tidak terdapat situs resmi, kunjungilah instansi terkait. Tanyakan data yang anda butuhkan saat itu juga.
- Cari data lewat buku-buku dengan kutipan dan daftar pustaka yang jelas. Coba cek melalui daftar pustaka, data-data yang mungkin berhubungan. (OS)

PROFIL Ninik L Karim


Ninik L Karim
Dosen Pemerhati Lingkungan yang Terjun ke Dunia Peran
Pernah membaca novel Ketika Cinta bertasbih karya Habiburahman el Shirazy? Novel bernafaskan Islam yang telah difilmkan tersebut memang diharapkan bisa mengikuti kesuksesan besar novel ayat-ayat cinta karya penulis yang sama yang telah lebih dulu difilmkan.
UI boleh berbangga karena salah satu dosennya, Ninik L Karim menjadi salah satu pemeran di dalam film tersebut. Dalam film besutan sutradara senior Haerul Umam tersebut, wanita yang kini menjabat sebagai dosen sekaligus kepala laboratorium psikologi social tersebut berperan sebagai Malikatun, seorang janda yang periang dan sangat perhatian dan sayang terhadap anaknya. Watak Malikatun tidak jauh berbeda dengan keseharian Ibu dua orang anak ini, yang selalu bersahaja dan bersahabat.
Ninik L Karim juga beradu acting dengan Dedy Mizwar walaupun hanya dua scene saja. Selebihnya wanita yang aktif menjadi konsultan di dalam tim Sahabat Sampah Jakarta ini banyak beradu peran dengan bintang baru. Pengalaman syuting Ketika Cinta Bertasbih menjadi begitu berkesan karena di sela sela syuting, wanita yang hobby mengamati pemandangan alam ini banyak memperoleh pengalaman religi karena dikelilingi banyaknya kru yang fasih di dalam ilmu agama Islam.” Aku banyak berdiskusi dengan ustadz yang juga turut andil dalam pembuatan film ini, mereka sangat membantuku untuk menghayati peran sekaligus mendalami agama Islam,” ujar wanita yang sangat menggemari masakan local Indonesia ini.
Di sela-sela kesibukan mengajar dan bermain seni peran, wanita yang pernah bermain di dalam film Ibunda, Pacar Ketinggalan Kereta dan beberapa FTV ini juga aktif di banyak kegiatan social dan lingkungan. Bahkan istri dari Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta menjadi salah satu rekannya di dalam Tim Sahabat Sampah Jakarta, sebuah tim yang mengupayakan pendaur ulangan sampah agar kembali menjadi berguna untuk masyarakat. “Aku memiliki cita-cita untuk minimal membuat sepuluh pengemis di Indonesia agar tidak menjadi pengemis lagi dan kembali produktif,” ujarnya dengan semangat. Wanita asli Mataram ini juga berpesan agar sebagai manusia kita harus mengasah terus seluruh bakat yang kita miliki. “Aku percaya bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang lahir tanpa memiliki arti dan guna untuk manusia lainnya, semua keberhasilanku hingga bisa bermain di dalam film merupakan keajaiban dari Tuhan, dan untuk keajaiban itu aku terus mengasahnya agar berlian pada diriku menjadi lebih bersinar,” ucapnya sekaligus mengakhiri perbincangan. (OS)

Nama : Ninik L Karim
TTL : Mataram Lombok 14 januari 1949
Nama Lengkap : Sri Rochani Soesetio Karim
Alamat : Jakarta Selatan
Basic pendidikan : Sma di Kediri, S1 dan S2 di UI fak Psikologi jurusan Psikologi Sosial
Status : menikah,
anak ke1 Azfansadra Karim, dan anak ke 2 Sharli Nicita Karim
Mata kuliah yg diajar : psiko sosial, lingkungan budaya, proses kelompok dan psiko media
Jabatan di fakultas dan di tempat lain, dosen dan kepala lab psiko social, staff akademik fakultas seni pertunjukkan IKJ ( namun tidak mengajar), konsultan di dalam tim sahabat sampah jakarta
Slogan/motto : Tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa memiliki arti atau guna untuk manusia lainnya.
Kegiatan lain : ikut di dalam program pemberdayaan masyrakat yang tidak berdaya
Cita-cita : minimal membuat 10 orang pengemis untuk kembali menjadi produktif lagi.


Hobby : membaca dan melihat pemandangan alam yang indah
Makanan favorit : semua masakan lokal indonesia
Warna favorit : warna yang kalem
Aktor dan aktris favorit: Meryl Streep, Jhonny Depp, dan Robert de Niro
Sutradara favorit : Chaerul Umam ( sekaligus orang yang dianggap paling berjasa di dalam karir seni perannya.
Tempat favorite : alam indonesia

Berperan sebagai Malikatun di dalam film ketika cinta bertasbih, seorang janda yang sederhana, perhatian, optimis, periang dan sangat sayang terhadap anaknya.
Awal mula bisa bermain dalam film ketika cinta bertasbih, ditelepon dan dipanggil langsung oleh Chaerul Umam sutradara, sebelumnya tanpa proses casting.

Pesan dan kesan, dalam film saya berjilbab, dan di dalam tim saya terdapat banyak orang yang fasih di dalam agama Islam, saya pun banyak bertanya dengan mereka, untuk menambah pengetahuan saya di bidang agama Islam.

Kata-kata mutiara, semua karunia Tuhan harus dipelihara dan diasah semaksimal mungkin. Dan di dalam dunia ini tidak ada satu manusiapun yang dilahirkan tanpa memiliki arti dan guna untuk manusia lainnya.

Mengurai Benang Kusut Pelayanan Kesehatan Indonesia

Mengurai Benang Kusut Pelayanan Kesehatan Indonesia

“Wajah pelayanan kesehatan Indonesia sekarang babak belur…,” ujar Prof. Hasbullah Tabrani mengkritisi pelayanan kesehatan saat ini.

“Pemenuhan hak setiap individu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan program jaminan kesehatan masyarakat dan sebagainya”, begitulah isi salah satu dari empat program seratus hari Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih. Sebuah program yang dinilai mulia, melihat sekitar 200 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan jaminan akan hak kesehatannya. Angka 200 juta bukanlah angka yang sedikit, namun hal tersebut menjadi wajar untuk dikorelasikan dengan program seratus hari Menkes, menilik terdapatnya kalimat pemenuhan hak setiap individu dalam program tersebut.
Seraya menangkis pandangan miring terhadap program tersebut, klaim keberhasilan muncul dari mulut Menkes sendiri. Bahkan pada hari ke-75, program dinyatakan tuntas dengan suksesnya pembagian 19,1 juta kartu jamkesmas untuk rumah tangga miskin. Sesederhana itukah jaminan akan kesehatan masyarakat terpenuhi? Fakta di lapangan menunjukkan sampai sekarang masih terdapat garis abu-abu pada kriteria rumah tangga yang dianggap miskin. “Kriteria miskin menjadi masalah utama bagi pembagian kartu jamkesmas di Indonesia. Masih belum jelas harus semiskin apa rumah tangga hingga layak mendapat kartu jamkesmas, yang lebih sulit lagi adalah rumah tangga yang pendapatannya hanya lebih tinggi tipis dari yang diberi kriteria miskin,” ungkap Prof. Hasbullah Tabrani, guru besar FKM UI sekaligus pengamat kesehatan Indonesia. Jumlah 19,1 juta kartu jamkesmas juga tidak sebanding dengan jumlah penduduk miskin Indonesia. Seharusnya kartu tersebut juga bisa dibagikan pada seluruh masyarakat Indonesia, mengingat program tersebut mengarah pada hak setiap individu rakyat Indonesia, bukan hanya rakyat miskin. ”Wajah pelayanan kesehatan Indonesia sekarang babak belur, hingga saat ini anggaran kesehatan tahun 2009 hanya dua persen dari Rp1,022 triliun APBN dan hal tersebut tidak jauh berubah dari tahun ke tahun. Pemerintah perlu disadarkan akan hal itu,” ujar Prof. Hasbullah Tabrani mengkritisi pelayanan kesehatan saat ini. Masalah besar lainnya adalah komitmen pemerintah dan seluruh komponen kesehatan belum berpihak kepada pemenuhan hak kesehatan individu secara keseluruhan. ”Masalah kesehatan masih kerap dijadikan objek bisnis bagi para penyedia layanan kesehatan. Sehingga tidak heran harga bermacam macam pelayanan kesehatan mengikuti pasar,” ungkap profesor yang mengajar di Departemen AKK FKM UI ini.
Pemerintah perlu disadarkan bahkan digertak akan pemenuhan hak kesehatan masyarakat sepenuhnya. Hingga saat ini teriakan kritik terhadap kebijakan kesehatan masih terhitung sedikit. Jumlah anggaran dan komitmen pemerintah terhadap kesehatan patut untuk dipertanyakan. Lalu sampai kapankah kita sebagai mahasiswa diam? Ayo, bergerak untuk kemajuan dunia kesehatan Indonesia!(OS)

Campaigne Campaigne

Campaign for The Election


There are many purposes of Indonesia National Election 2009 campaign. The first purpose, each political party aims to have many DPRD chairs. All political parties set the baligo, fliers, etc to socialize and advertise their representatives. They also hold “Dangdut Party” in every regions to collect the symphatizers. All the ways they do because DPRD chairs are very important to run their parties programs smoothly in every regions and provinces. The second purpose, each political party aims to have many DPRD chairs. For this purpose, each political party prepares their representatives to collect the sympathizers. Of course each political party needs more costs than costs to socializes their representatives for the DPRD chairs because the range of the campaign includes one Indonesia. Some of the representatives debate each other to compete their arguments on TV, like in “Debat Pemilu Show” on TV One. The DPR chairs are important to get majority voices in every DPR conferences in DPR Hall, Senayan. The third purpose, all political parties want their representatives to be The President of Indonesia. Since the campaign season, each president candidate advertises him/ herself on TV to socializes their party programs. Each president candidate who usually also the political party leader holds the “Rakernas” and “Mubes” to unites the region leaders and other member of the party and discuss about the next programs and some strategies to get a lot of voters. In conclusion, all of political parties want to realize their ultimate goal: to win The Indonesia National Election 2009. (OS)

Batik

Batik, sebuah akar budaya dan kebanggaan bangsa Indonesia

Baru saja tanggal 2 Oktober lalu batik disahkan sebagai Intangible World Cultural Heritage oleh UNESCO. Setelah melalui proses yang panjang dan penuh liku UNESCO sebagai badan PBB yang mengurusi bidang kebudayaan akhirnya mengesahkan batik sebagai budaya asli Indonesia. Hal ini disambut gembira oleh seluruh kalangan masyarakat tanah air. Tepat pada tanggal 2 Oktober 2009 tersebut, di tempat-tempat seperti perkantoran, universitas, dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat, ditemukan banyak sekali masyarakat yang menggunakan batik. Hal ini menggambarkan betapa antusias dan bangganya masyarakat terhadap budaya batik di Indonesia. Batik di Indonesia sudah menjadi budaya khas di masyarakat. Selain indah, batik juga sangat menggambarkan kepribadian bangsa Indonesia sehingga batik kerap dipergunakan pada kegiatan seperti aktivitas beragama, acara keluarga dan acara formal lain.
Kampus kita yang tercinta ini juga tidak mau ketinggalan, pada tanggal 2 Oktober yang sekarang disahkan menjadi hari batik nasional, bisa dilihat begitu banyaknya orang yang mengenakan batik, dari pejabat rektorat, dekanat mahasiswa hingga karyawan. “Saya bangga banget pake batik hari ini, saya ngerasa ini lho kebudayaan asli Indonesia,” ungkap Ridho Mardatilah mahasiswa FKM UI.
Perjalanan sejarah batik hingga disahkannya menjadi Intangible World Cultural Heritage oleh UNESCO sangatalah berliku bahkan sempat menimbulkan perdebatan sengit. Hal ini dikarenakan sempat diklaimnya batik kita oleh Malaysia. Berawal dari pengklaiman batik di dalam iklan pariwisata Malaysia. Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengecam keras tindakan Malaysia tersebut. Kejadian ini ditindak lanjuti dengan segera diurusnya batik agar segera disahkan oleh UNESCO. Awal kehadiran batik di Indonesia memang sangatlah panjang, bukti sejarah yang ada hanyalah relief - relief candi dan peninggalan kerajaan Jawa masa lampau. “Sejarah batik tidak bisa singkat atau akan sangat panjang sekali jika kita bahas. Sekarang saya ambil pada tahun 1200. Pada tahun tersebut sudah ada kerajaan jawa yang sangat terkenal yaitu majapahit. Jadi dari peninggalan-peninggalannya kita bisa melihat hasil hasil keseniannya yaitu diantaranya adalah seni lukis batik salah satunya,” ungkap Ibu Nanny Sri Lestari M.Hum, dosen bahasa, sastra dan budaya Jawa FIB UI. Kain Batik yang sejak dulu digunakan sebagai pakaian oleh masyarakat masihlah sangat sederhana, hingga kini usaha batik tetap berjalan secara turun temurun. Batik yang sempat diklaim Malaysia jelas berbeda dengan asli buatan Indonesia. “Batik Malaysia yang pernah saya lihat sangatlah berbeda, cara mereka membuat corak sangat berbeda dan saya yakin sampai kapanpun cita rasa mereka dalam membuat batik sangat berbeda dengan orang asli Jawa,” tegas Ibu Nanny Sri Lestari M.Hum yang juga pengajar MPK seni batik.
Mengenai motif batik sendiri banyak terinspirasi dari keindahan alam Indonesia. ” Sebenarnya ada dua kemungkinannya. Pertama, motif itu diambil dari suatu motif-motif dari pahatan/lukisan yang dibuat sudah lama sebelumnya atau justru motif-motif yang ada pada pahatan tersebut bersumber dari sesuatu yang sudah dikenal dalam pakaian pada masanya,” ungkap Dr Supratikno Rahardjo, Dosen Manajemen Sumber Daya Budaya FIB UI.
Intangible World Cultural Heritage sendiri merupakan pengakuan PBB terhadap batik sebagai kebudayaan asli Indonesia. “Intangible World Cultural Heritage itu kan suatu pengakuan internasional tentang karya manusia yang sangat tinggi nilainya dalam budaya. Jadi pengakuan internasional dari UNESCO artinya bahwa tidak akan ada negara lain yang akan mendaftarkan batik sebagai world heritage. Dan itu implikasinya lebih ke arah sana, yaitu karya monumental dan harus dipertahankan selama mungkin,” ungkap Dr Supratikno Rahardjo.
Sebenarnya sifat kebudayaan itu asli dan murni, tidak mungkin ada plagiarisme yang mampu menyamainya. “Saya sempat khawatir terhadap klaim yang dilakukan oleh Malaysia, tapi ketika saya berkunjung dan mengamati cara seniman batik bekerja, saya lega karena saya yakin tidak ada bangsa manapun yang dapat merasakan kenikmatan proses membatik, cita rasanya sangatlah berbeda dan saya yakin juga terhadap kebudayaan Indonesia yang lain. Jika memang ada usaha plagiarisme pastinya itu tidak akan berlangsung lama karena mereka pasti akan bosan,” ungkap Ibu Nanny Sri Lestari M.Hum.
Pemerintah Indonesia sendiri harus bertindak lebih tegas. Tiap provinsi seharusnya memaksimalkan kerja dinas kebudayaan dan pariwisata untuk terus mengupdate data dan dokumen kebudayaan Indonesia. Dari tiap provinsi itulah data dikumpulkan sehingga tidak dapat dicuri oleh pihak asing. Indonesia pantas berbangga hati akan kekayaan budayanya. Tinggal kini bagaimana masyarakatnya untuk melestarikan kebudayaan itu sendiri. (OS)

A Long Way to Enter UI

A Long Way to Enter UI


University of Indonesia, that is well known as one of the top universities in Indonesia has produced more than 100.000 graduates since 1950. Since UI was born, there were more than once UI has changed the entrance test systems. Started with Proyek Perintis, Sipenmaru, UMPTN and SPMB last 2007. In 2008, UI held UMB together with five state universities in Indonesia: USU Medan, UIN Jakarta, UnHas Makasar, and UI itself. In 2008 UI also held SNMPTN together with all state universities in Indonesia. UI changes the entrance test system periodically because UI want to select the best students from any region in Indonesia. And nowadays, UI holds three kinds of entrance tests to select students: SIMAK UI, UMB, SNMPTN.
UI holds SIMAK UI as the first test. SIMAK UI is the newest UI entrance test. UI wants to be the fastest university that holds the entrance test, in order to get the students selectively. SIMAK UI is held in 40 cities in Indonesia and one city in Malaysia. Although UI got some critiques and problem with netwok disability but finally SIMAK UI can be held successfully. SIMAK UI offers three variant choices of bachelor and diploma programs: Vocation (for diploma program), Regular and Non Regular (for bachelor program). And 33 days after the test, the announcement of SIMAK UI is posted in mass media and UI website.
Second, UI holds UMB (Ujian Masuk Bersama). Same like the UMB before, UI holds UMB together with five state universities in Indonesia. But in 2009, UI only offers five percent chairs for regular bachelor program (six percent in 2008). The announcement of SIMAK UI is also posted in mass media and UI website.
The last test is SNMPTN. UI holds SNMPTN together with all state universities in Indonesia. The test is held together at the same time in any region in Indonesia. For this test UI only offers nine percent chairs for regular bachelor program. As the last way test, SNMPTN is sometimes full of tricks. Some students just gamble their luck on SNMPTN. Sometimes the result of SNMPTN is out of prediction. So all of the students not only have to study but also have to be lucky to pass SNMPTN.
Nowadays, UI holds three entrance test to select students. This happens because UI wants to get the best students fromm all regions in Indonesia. Therefore, students need to have more preparation to face the test. Students also need to be patient if they fail in the entrance test. (OS)