Selasa, 12 Januari 2010

Filosofi "labil"

"Hey gila ya lu masih dengerin pee wee gaskins, labil gila deh," lagi lagi gue nemuin fenomena munafik di kebanyakan remaja sekarang ini. Kalo gue liat ungkapan "labil" ga jauh beda sama "alay", yang sama sama bertujuan menunjukkan bahwa kita "lebih" dari orang yang kita cemooh. Namun untuk kasus labil ini lebih diartikan kepada ketidakdewasaan dan ketidak matangan seseorang

Bagaimana seseorang sampai kita bisa dikatakan labil?
Labil sendiri merupakan suatu kondisi psikologis seseorang yang bisa dikatakan gamang, rapuh dan tidak jelas. Kondisi ini kerap terjadi pada remaja usia menengah. Ungkapan labil menjadi menyakitkan jika kita sedang menyukai suatu hal, namun di sisi yang lain hal yang kita suka ternyata malah sedang menjadi public enemy.

Kita tentu terganggu, bahkan hal tersebut bisa menjadi konfik batin internal dalam diri kita.

Apa hak orang hingga bisa mengatakan kita labil?
Setahu gue hanya orang tua yang tahu perkembangan mental kita secara menyeluruh atau secara harfiah teman yang mencemooh anda labil adalah orang yang sok tahu.

Apakah semua orang labil?
Tentu saja, silahkan mengaku anda ini telah dewasa, tapi ada waktunya dulu anda pernah menyukai musik boyband, melayu, emo dan lainnya. Hal tersebut adalah kewajaran, keinginan menduplikat seseorang adalah fenomena wajar, coba buka buku sosiologi SMA anda, saya yakin anda akan menemukannya.

Okay cukup paparan gue tentang orang yang munafik hingga mencemooh orang labil, labil=sebuah kewajaran dan semua orang pernah labil, jadi jangan sok dewasa, toh semua ada waktunya. Adat mencemooh justru menggambarkan bahwa andalah yang sebenarnya belum dewasa dalam bersikap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar